Klub Panahan PASTI, Yogyakarta - belajar jemparingan
Klub Panahan Yogyakarta
Pagi di Klub panahan PASTI, Kemantren Mantrijeron lumayan dingin. Sudah 2 hari ini Yogyakarta diguyur hujan seharian. Kami tidak bisa belajar jemparingan.
Photo by: pakdhe Gandhung
Waktu masih menunjukkan pukul 6 lebih sedikit. Ku raih sapu lidi di bawah pohon Kluwih di pinggir sasana, dan perlahan kusapukan ke daun-daun yang gugur semalam karena hujan.
Badanku mulai terasa hangat, dan lapangan juga jadi bersih. Hmmm ... rasanya segar.
Cuaca masih mendung, saat jemparing-jemparing panahku melesat ke sasaran wong-wongan (boneka jerami) yang digantung di kejauhan.
Beberapa anak-panahku mulai mengenai sasaran kecil itu, dan membunyikan lonceng yg dipasang dekat wong-wongan saat deru-halus sepeda motor Pakdhe Gandhung menyapa telingaku dg lembut.
Akhirnya ada yg menemani ... aku tersenyum gembira.
Klub panahan PASTI ini sebenarnya masih baru beberapa bulan berdiri. Menempati lahan bekas sawah yg dikeringkan, milik warga kampung Dukuh.
Salah-satu pemilik lahan ini seorang bapak tua. Beliau dengan senang-hati meminjamkan tanahnya untuk kegiatan Jemparingan warga
Klub panahan (KP) yang GRATIS + dapat makan 😀
Aku bergabung di klub panahan PASTI ISTIMEWA, kecamatan/Kemantren Mantrijeron, DI. YOGYAKARTA sekitar bulan Oktober 2021, dan mulai jadi duta untuk lomba / gladhen panahan mewakili klub mulai 7 November 2021 lalu.
Tapi, itu kisah yg mau ku bahas nanti, kali ini aku mau cerita tentang klub panahan di Yogyakarta yang GRATIS, 'udah gitu sering dapat makan ... ya di KP. PASTI ini 😁😁
Masih ingat khan, bapak tua pemilik lahan panahan ini ? Sekali waktu aku datang ke sasana ... beberapa warga sedang belajar memanah, sebagian duduk-duduk di meja bambu pinggir lapangan.
Sudah jadi kebiasaan kala datang, aku memberi salam ... berjabat tangan dengan yang sudah hadir, salahsatunya dengan bapak tua ini.
Kami ngobrol sebentar dan mengatakan betapa beruntungnya bisa ikut belajar jemparingan di PASTI ini.
Dari bicaranya, tampak bapak itu juga senang tanah kosong miliknya bisa bermanfaat dan menjadi bersih. Pernah kulihat di WAgroup, foto bapak tua pemilik lahan ini bahkan menyediakan minuman untuk tetangga-tetangganya yg baru belajar memanah.
What ?
Siang itu aku baru bersiap latihan jemparingan bareng teman-teman kampung, saat bapak tua itu melambaikan tangannya ke seorang warga, "Ambil ketela di kebon, buat dimasak disini" katanya lembut ... "ya, mbah. Siap !"
Tidak berapa lama pak Heri mengambil besi untuk mencabut ketele di kebun bapak tua. Dengan santai beberapa warga membantu 'panen singkong', dan membawa nya ke sasana. Siang itu kami pesta singkong rebus.
Oh, iya. Pohon Kluwih di pinggir lapangan ini juga hampir tiap hari 'mengirim' makanan. Baru asyik-asyiknya memanah, tiba-tiba ... bruuk !
Buah Kluwih jatuh !
Kami bergegas memungut, mengambil biji-bijinya lalu direbus. Enak lho, dimakan hangat-hangat bareng teman.
Artikel ini ditulis oleh : Kris panahan
OUTLINE :