Busur-panah jemparingan kuno - www.JEMPARINGAN.com

Busur-panah jemparingan kuno di MandarinMansion


Siang ini tidak-sengaja saya menemukan foto di internet tentang jemparing / anak-panah jawa kuno, dalam kondisi lumayan / sangat bagus. 

Ada beberapa deskripsi yg kurang pas, bukan berniat menyalahkan - hanya lebih tepatnya melengkapi / update, supaya bisa menjadi sarana belajar memanah & sejarah (budaya Mataram) 🙏🙏


Introduction
In the palace or keraton of Yogyakarta, a traditional form of archery was practiced called Jemparingan. Its origins were thought to lie in the Sultanate of Mataram which lasted from 1587–1755.

These are the bow and arrow (gendewa / pana) which are seldom used in modern times except on state occasions.1

-Thomas Stanford Raffles, 1817

Menarik sekali di situ ditulis :
  • keraton of Yogyakarta.
    Yang betul adalah Karaton Yogyakarta, atau lebih tepatnya : Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat
    .
  • a traditional form of archery was practiced called Jemparingan Its origins were thought to lie in the Sultanate of Mataram which lasted from 1587–1755.
    Raffles yg menjarah karaton Kasultanan Mataram Ngayogyakarta era Sri Sultan HB.II menyebut nama panahan tradisional di kasultanan Mataram ini dg JEMPARINGAN

It was a form of target archery that was practiced while sitting cross-legged, facing the target, with the bow held horizontal. It endured in small circles until recent times, with some adjustments.2

  • It was a form of target archery that was practiced while sitting cross-legged
    memanah target / sasaran yg dilakukan dg duduk bersila
    .
  • facing the target, with the bow held horizontal
    menghadap ke sasaran dg gendewa yg dipegang secara HORISONTAL
    .
    .
  • The below drawing was made by Wolfgang Barti based on a written description of the old sport.3

    Catatan :
    Sampai dengan masuknya JEPANG ke Mataram Ngayogyakarta (1942), sasaran berbentuk bola, & digantung pada seutas tali seperti ini masih dilakukan. 

    Sekarang target untuk jemparingan di karaton Ngayogyakarta Hadiningrat yg dipakai adl : wong-wongan (boneka orang-orangan) dg 3 warna :
    - MERAH (kepala),
    - KUNING (leher), &
    - PUTIH (badan)
    + bola kecil di bawahnya (pocong / pantat)

    KRT. H.JATININGRAT SH.
    Penghajeng Paguyuban Jemparingan Mataraman GANDHEWA MATARAM,
    Abdi Dalem Karaton Ngayogyakarta Hadiningerat

    Sebenarnya posisi duduk para pemanah BUKAN di 2 sisi seperti sketsa di atas, menlainkan SEMUA di 1 sisi menghadap 45 derajat ke arah sasaran (bisa sampai 3 baris, memanah bersamaan, karena dulu sasaran digantung tinggi-tinggi)

    Kalau yg duduk melingkari sasaran itu PASERAN (bola-kayu diberi besi panjang runcing di depan, bagian belakangnya diberi sayap spt jemparing. Cara memainkannya dg digenggam lalu dilempar dg tangan ke sasaran.


    Notes to introduction :

    1. Thomas Stanford Raffles; The history of Java. Vol 1. Page 295.

    2. See: Pradana Pandu Mahardhika; A Tantalizing Glimpse into the Past: Traditional Archery Competitions in the Yogyakarta Palace. 2000. ATARN.ORG. >> Lihat disini 

    Catatan : Jemparingan yg diliput di sini ternyata jemparingan yg model baru (modifikasi). Memang dilakukan di halaman KDB Kemandungan, karaton Yogyakarta, memang memperingati weton lahir Sultan ke X, tapi jemparingan dg diincar menggunakan mata + posisi gendewa miring / diagonal seperti ini baru ada setelah tahun 1970an akhir - 1980 awal. (setelah Gusti PA tidak-lagi menjabat sebagai ketua PERPANI)

    3. Wolfgang Barti; A Javanese bow and arrows. Journal of the Society of Archer-Antiquaries 1998. Pages 57-58

    Sumber : https://www.mandarinmansion.com/item/box-javanese-arrows 

    ***

    Yuk, lihat DETAILnya :

    Dimensions of box : 67.3 x 13.8 x 7 cm

    Consisting of a well-made wooden box with facetted top, fitted copper hinges and a brass carrying handle. Inside are two sets of five arrows each, making a total of ten arrows. They all have small slender iron tips of round cross-section, reinforced with a long metal sleeve, possibly of báitóng.

    Origin Yogyakarta, Java, Indonesia

    Materials : Wood, copper, brass, iron, báitóng. bamboo, horn, palm wood, silk, lacquer, pigments, feathers

    Dating : 19th or early 20th century

    Price : €1200, -



    # JEMPARING / anak-panah :

    The shafts are all made of splitcane, a method where strips of bamboo are glued together to form a strong, solid shaft. The work is so well-done that it is hard to make out the individual strips but it seems they are made of at least six strips each.


    • The shafts are all made of splitcane, a method where strips of bamboo are glued together to form a strong, solid shaft.
      .
      Catatan :
      Di dalam jemparingan, shaft anak-panah namanya DĚDĚR. Menarik sekali di data tertulis : semua jemparing / anak-panah ini adalah GAPLOK
      .
      Pembuatan Děděr u/ jemparingan ada 2 jenis :
      1. Engkěl : 1 lapis bambu langsung diraut jadi 1 batang deder
      2. Gaplok : 2 atau lebih bambu di-lem jadi 1. setelah berpenampang kotak, lalu diraut jadi silinder. Di pasaran harganya jadi mahal karena pengerjaannnya ekstra, dan hasilnya laju jemparing lebih lurus. kelemahannya, jemparing jadi 'lebih berat'

    Dalam 1 kotak HANYA terdapat 10 jemparing saja, dengan DIAMETER děděr bambu yg berbeda (otomatis beratnya pun jadi berbeda) :

    Arrows set 1

    • Overall length 62.6 cm
    • Shaft thickness 6 mm
    • Average weight 16.6 gram 

    Arrows set 2 :

    • Overall length 63.6 cm
    • Shaft thickness 5 mm
    • Average weight 13.4 gram 

    MENARIK SEKALI !!!

    Boleh percaya - boleh tidak, saya sendiri sejak AWAL belajar jemparingan di Kagungan Dalem Bangsal Kemandungan, karaton Yogyakarta, reflek selalu membawa 5 / 6 jemparing ke lapangan 

    Di endhong / tabung panah saya, masih ada 1/2 lusin jemparing, dg berat yg berbeda

    Kalau pas kurang nyaman dg yg 18 gram, tinggal ganti dg yg 16 gram. 4 anpan untuk bermain, yg 1 untuk cadangan.



    Sekarang permainannya hanya jarak-pendek = 35 m
     Jaman dulu jaraknya 40 s/d 50 m, targetnya Jeruk bali digantung di seutas tali. 

    Anak panah jadoel lebih ringan, karena jarak sasaran lebih jauh; godhongan / bulunya juga ramping untuk mengurangi hambatan krn angin.

    Kalau diperhatikan seksama, para Kanjeng & Abdi-dalem karaton hanya membawa 4 atau 5 jemparing, karena dalam permainan Jemparingan Mataraman gagrak (gaya) Karaton Ngayogyakarta memang hanya ngeCUL (release) 4 jemparing tiap rambahan (rounde)


    The arrows in the first set are slightly shorter than the others. They are fletched with white feathers, with pieces of brown feather spliced in so each vein consists of 4 pieces, making a total of 12 pieces of feather per arrow. The cresting was done in black, blue, gold and red paint. On each shaft is written in gold lacquer the word "pandjing"

    Catatan :
    Jaman dahulu para bambang / penjemparing tidak mengambil sendiri anak-panah yg sudah di Cul. Ada para cucuk (anak-anak, remaja, kadang juga orang dewasa) yg membantu mengambilkan anak2-panah. 
    Itu sebabnya, jemparing jaman dahulu diberi nama-nama unik, untuk memudahkan para cucuk mengembalikan kepada para Pemilik anak-panah.

    Seperti foto di atas, jemparingnya diberi nama : Panjing


    1 kotak berisi 10 jemparing, dengan 2 ukuran panjang & berat anak-panah yg berbeda @5biji 


    The arrows of the second set are slightly longer and with a lower feather profile, suggesting they were made for a longer distance kind of shooting. The cresting was done in a similar color scheme, but of a slightly different design. On each shaft is written in gold lacquer the word: "tingkring"


    Catatan :
    Saya kurang sependapat dg keterangan di atas : The arrows of the second set are slightly longer and with a lower feather profile, suggesting they were made for a longer distance kind of shooting

    Arrows set 1 : "Pandjing"

    • Overall length 62.6 cm
    • Shaft thickness 6 mm
    • Average weight 16.6 gram 

    Arrows set 2 :  "Tingkring"

    • Overall length 63.6 cm
    • Shaft thickness 5 mm
    • Average weight 13.4 gram 
    Para pemanah jemparingan pasti tahu :
    - Jemparingan HANYA mengenal 1 jarak setiap kali diadakan gladhen (latihan bersama) - lihat gambar Wolfgang Barti di atas
    - Jemparing yg lebih ringan - tapi lebih panjang = lebih beRESIKO tertiup angin.
    Apalagi sasaran yg diincar (tidak boleh memanah dg dibidik pakai mata) relatif kecil & digantung di seutas tali  / bergoyang. TIPS-nya : jemparing biasanya JUSTRU kami potong PENDEK 
    - Andai ini jemparing u/ perang ( / DEMO 😁), jumlahnya tidak mungkin HANYA 5 biji, DAN tidak akan diberi nama 
    .

    # BEDOR / mata panah Jemparingan :



    Bedor semacam ini SAMPAI SEKARANG masih kami pergunakan. Umumnya terbuat dari paku dibungkus dg plat janur (besi plat yg biasa u/ mengikat kotak kayu peti kemas), lalu di patri.  1 lusin sekarang dijual = Rp.100ribu (ukuran lebih pendek)

    Kalau bedor Jaman Now, bahannya dari baja steinless di bor, harganya jauh lebih murah.


    # NYENYEP / selfnock Jemparingan :


    Catatan pribadi :
    Nyenyep jaman dahulu ada yg paten / asli dari ros bambu deder yg dibentuk seperti bulan sabit (ada yg menyebutnya: cangkem naga / mulut naga); dan ada juga yg pasangan / lepasan, biasanya dibuat dari tulang / tanduk



    Nyenyep tidak di KLIK-kan ke sendheng (string tali busur), melainkan dijepit menggunakan jari atau samping ruas jari telunjuk. Saya pernah dengar, sedikitnya ada 5 teknik memegang nyenyep ini.

    # GODHONGAN / WULU / bulu anakl-panah :


    Catatan Pribadi :
    Untuk jemparingan mataraman, ukurannya panjang & ramping. Jemparing model lama ada yg godhongannya sampai 25cm. 

    ***

    Comparable examples "

    Are very rare but there is a very nice set in Musée du quai Branly under accession number 71.1900.52.1.1-27. It consists of a decorated box containing a take-down bow and twenty arrows. It was acquired in 1900 from the Paris Exposition, and supposedly came from Prince Harjo Mataram.

    Coffret (kotak / box)

    Objet
    Classification : Objet
    Géographie : Asie – Asie du sud-est – Indonésie – Grandes îles de la Sonde (aire) – Java (île) – Jawa Tengah (province) – Surakarta
    Culture : Asie – Javanais
    Date : 19e siècle
    Matériaux et techniques : Bois sculpté, cuivre
    Dimensions et poids : 93,1 x 21 x 8,7 cm, 5899 g
    Donateur : Comité des Indes néerlandaises, Exposition universelle de 1900 ;
    Précédente collection : Musée de l'Homme (Océanie) ;
    Exposé : Non
    Numéro d'inventaire : 71.1900.52.1.1-27

    Catatan Pribadi :
    Sejarah mencatat Kerajaan Mataram dibagi 2 : Mataram Surakerta & Mataram Ngayogyakarta

    Prajurit Panyutra (Kasunanan Surakerta) membawa : 12 jemparing.


    Bregada Nyutra (kesatuan prajurit bersenjata panah Kasultanan Mataram Ngayogyakarta, HANYA menyandang 4 jemparing.

    ***
    Conclusion

    A very rare set of boxed Indonesian target arrows of the 19th century
    that were used for target archery tournament performed in the palace of Yogyakarta.

    >> Kembali ke AWAL

    Postingan populer dari blog ini

    Jemparingan Mataraman: Panahan Keraton yang Tetap Lestari