Tugas ALINEAKU

OUTLINE

Tema : Kemajuan Teknologi Indonesia

‌JUDUL : Kemajuan Teknologi Indonesia - Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat

Pengertian teknologi:

Menurut KBBI, ada dua pengertian teknologi, yaitu:

- Teknologi adalah metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis atau ilmu pengetahuan terapan.

- Teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.









I. PERKENALAN

II. BANGSAL KEMANDUNGAN - teknologi bangunan

III. JEMPARINGAN VS HaPe : Senjata & media belajar charakter building

IV. PERMAINAN VS GAMES 

V. PENUTUP


***


I. PERKENALAN : From IG to Kamandungan

"Selamat sore mas Kris, saya Fatma yang di instagram menanyakan tentang Jemparingan di lingkungan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ..."

Sebuah perkenalan formal via layanan pesan WhatsApp, membuka jembatan silaturahmi di antara kami. 

Sudah beberapa kali aku mendampingi mahasiswa maupun kelompok komunitas yang ingin belajar memanah di Kraton Yogyakarta ... tak kusangka, kali ini justru aku yg mendapatkan banyak pelajaran berharga ...


II. BANGSAL KEMANDUNGAN - teknologi bangunan

Cewek ini perawakannya cungkring, tingginya seukuran anak kami yg kedua. Bedanya, dia datang untuk mengerjakan tugas kuliah, sedang jagoan kami baru kelas 2 SMP. 

Kulihat dia bergegas meninggalkan tukang ojol dan menghampiriku dg penuh semangat sambil memperkenalkan-diri: "Aku Fatma, mas Kris .." 

Tampaknya ia mengenaliku dari tas busur yg aku bawa.

"Saya pak Kris. Sebentar njeh saya mau menaruh busur jemparing ini dulu di dalam. Mari ikut masuk ke bangsal Kemandungan." 

Bangsal, adalah jenis bangunan Kraton tanpa dinding penyekat. Hanya terdiri dari atap berbentuk joglo, yang disangga tiang-tiang saka, dan pondasi pendapa. Semuanya masih asli. Kayu balok besar yang kokoh, konstruksi sambungan yang utuh, tak lekang digoncang gempa dahsyat yang pernah meluluh-lantakkan kota Yogyakarta di hari ulang-tahunku, 27 Mei 2006.

Bangsal Kemandungan, adalah bukti majunya teknologi rancang bangun wangsa Mataram. Diboyong dari dusun Pandak, Karangnangka di Sala, dibawa ke Yogyakarta pada tahun 1755, dan masih kokoh berdiri sampai hari ini.

Sekilas kulirik mbak Fatma yang sibuk mengeluarkan kamera digital dan monopod-nya. Tampak kontras sekali dengan bangunan kuna yang menyimpan berjuta cerita ini.


Anak-anak kampung mulai berlarian juga ke arahku : "Pak Kris, kita latihan panahan, ya!" ... "iya, ayo semua masuk. Oh iya, pak Kris dibantu menggelar tikar di pendapa, yuk!"

Aku menoleh ke Fatma dan bertanya: "Dari jurusan apa, mBak? ... "saya dari prodi Desain Komunikasi Visual, Pak", jawabnya riang.

"Baik, silahkan mengambil dokumentasi, saya sambi mengajar anak-anak dulu, ya."

Suasana Sabtu sore itu cerah, anak-anak berlatih memanah jemparingan gaya Kraton Yogyakarta dg riang-riuh khas anak-anak kampung. 

Tugasku menjadi lebih ringan saat mas Wahid dan putranya sowan.

Sowan? Itu istilah bagi laki-laki yang datang ke Kraton. Kalau wanita, seperti mbak Fatma, disebutnya: marak.

Mas Wahid melanjutkan tugas mengajar panahan di halaman Kemandungan, sedang kami melangkah masuk kembali ke pendapa. Beberapa anak ikut duduk bersama kami di tikar saat aku mempersilahkan mbak Fatma untuk bertanya.

"Patung di tengah pendapa itu kenapa, pak Kris?"

Pertanyaan pertama itu benar-benar mengejutkanku ... membuatku berpikir sejenak bagaimana memberi jawab diantara murid-murid mungilku ini.

"Oh, di depan patung abdi-dalem itu ada tulisannya : Dilarang naik ke pendapa. Kadang-kadang ada dupanya juga, mbak. Tujuannya biar anak-anak tidak berlari-larian di atas sini.' jawabku ringan.

Aku melanjutkan, "Tapi cara itu kurang berhasil. Kami sekarang justru mengajak anak-anak duduk di pendapa, dan belajar-bersama tatakrama saat bermain jemparingan. Sekarang, tidak ada lagi anak-anak yg berlari main-bola diatas pendapa ini," ujarku sambil melirik Sasa.

Gadis kecil Kemandungan ini hanya nyengir, lalu menjawab: " Ya, pak Kris ... dulu aku juga suka main bola di atas pendapa" ujarnya sambil tersenyum malu.

Pertanyaan-pertanyaan selanjutnya mengalir gampang, sampai waktu mengantar kami ke senja. 

Dengan sopan aku mengajak mengakhiri wawancara sore ini. "Yuk, pak Kris mau meutup kori (pintu) bangsal Kemandungan ini", dan kami pun beranjak keluar bangunan.

Ternyata, walau hari mulai gelap lampu di pendapa belum dinyalakan. Kami masih di depan kori saat Sasa bicara pelan, "Pak Kris ... Kuntilanak-nya ada di sana lho"

Hmm, aku menoleh ke pojok pendapa lalu berkata : "Hei, MRENE (kemari) !" 

Aku memperhatikan anak-didik di depanku. Aku ingin tahu, bagaimana ekspresi terutama si Sasa yang tadi berkata lirih kepadaku.

Bulu-kudukku merinding. Dari rambut-kepala sampai ke pinggang langsung terasa kesemutan. "Hmm, dibelakangku, ya? Tidak masalah", batinku.

Dengan lembut aku bilang ke Sasa : "Yang penting NIAT-nya. Kalau baik, tidak masalah."

Aku perhatikan Sasa tetap santai, sepertinya penampakan seperti ini hal biasa di Kemandungan. Atau, karena ia percaya aku ada disampingnya, aku tidak tahu.

Setelah 'selesai' dg murid-kecilku, pandanganku beralih ke mBak Fatma. Reaksinya sedari tadi diam saja. "Mbak, sudah pesan ojol, ya. Jangan kuatir kita temani sampai driver-nya datang", ujarku ringan.

"Belum koq pak Kris, aku belum pesan ojol. Kalau pak Kris mau pulang duluan, biar aku ditemani dek Sasa saja," jawabnya santai.

Aku menarik nafas lega. Omongannya nyambung ... semua baik-baik saja. 

Dalam hati aku berkata : "Andai saja teknologi digital yang dibilang 'maju' itu bisa merekam peristiwa perkenalan tadi ... ach, teknologi lama bangsal Kemandungan ini, justru mampu membingkainya dalam harmoni Jawa yang syahdu". Aku pamit pulang.


III. JEMPARINGAN VS HaPe : Senjata & media belajar charakter building

WhatsApp menjadi teknologi-penghubung yang menghantar kami untuk 'janjian' marak-sowan ke Kanjeng Raden Tumenggung Jatiningrat, di Tepas Dwarapura. Beliau adalah penghajeng atau pemimpin Paguyuban Jemparingan Gandhewa Mataram, yang beranggotakan para abdi-dalem Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Sekali lagi teknologi-modern itu mandul di belahan Indonesia bagian Ngayogyakarta Hadiningrat. Pria tua itu tidak menggunakan handphone. Dan andai pun punya, aku juga tidak akan memakai nomornya untuk sekedar janji-temu. Adab kami tidak seperti itu.

Hari Senin kraton libur. Suasana lengang. Tidak ada prajurit bertombak yang biasa berdiri-jaga. 

Dengan perlahan aku mendorong pintu-gerbang regol Srimanganti yang berat, lalu kami masuk ke dalam karaton. Di regol Srimanganti ini Sri Sultan biasa menerima kunjungan presiden, atau tamu negara lainnya. 

Di dalam karaton hanya terlihat 2 abdi-dalem sedang mengatur perangkat gamelan. Kami melangkah hormat melewati bangsal Trajumas, lalu berjalan pelan ke kantor tepas Dwarapura.

Berbeda dengan lengangnya suasana di pintu gerbang Srimanganti, di Dwarapura semua Kanjeng sedang duduk di meja-kerjanya masing-masing. 

Kami dipersilahkan menunggu sebentar, sampai Kanjeng Jatiningrat hadir. Pria tampan ini berjalan kaki dengan gagah dari rumahnya di sisi barat komplek kraton dan menyambut kami dengan suaranya yang lembut. Senyum khas abdi-dalem senior tampak menenangkan hati.

Dengan singkat aku memperkenalkan mbak Fatma ke Beliau, lalu duduk-diam menyaksikan jalannya rekaman wawancara. 

Putri dari Depok, Jawa Barat, duduk-diam memegang erat monopod kecil yang menyangga kamera digital. Tampak rapuh berusaha mereguk sejarah 266 tahun sejak awal berdirinya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Dan sekolah TAMANAN yang didirikan Sri Sultan pertama untuk mengajar pendidikan budi-pekerti putra-putri bangsa. Materi pelajaran yang sangat ditakuti Belanda.

Memanah, di karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, sejak awal diajarkan di sekolah Tamanan bukan lagi untuk berperang atau membela-diri. Bukan untuk berburu binatang atau membunuh lawan. 

Memanah dijadikan salah-satu teknologi penghubung untuk pembentukan karakter (character bulding) putra-putri kasultanan. Memanah sasaran boneka kecil yang digantungkan di seutas tali, tanpa boleh diincar dengan dilihat menggunakan indera mata. Memanah di karaton Yogyakarta berasal dari kata 'manah' yang berati : hati. Mengincar sasaran sejauh 32 meter, hanya dengan menggunakan (mata) hati. 


IV. PERMAINAN VS GAMES, Selasa sore di Kemandungan

Waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 dan aku masih bergumul membuat pola, dan memotong kain untuk dibuat celana. Mbak Fatma pasti sudah sampai di bangsal Kemandungan bersama para abdi-dalem yang bersiap bermain jemparingan. 

Ini hari terakhirnya di Yogyakarta, dan kesempatannya hanya tinggal satu kali ini untuk bisa membuat tugas liputan Sejarah jemparingan di Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Dan disini ... aku masih terikat dengan tugas pekerjaan. Dan ditunggu tukang-tukang jahitku, yang menggantungkan nafkah dari kerja borongan menjahit di perusahaan keluarga kami.

...

Peluang kecil ini hanya bisa aku gantungkan pada 'teknologi-sosial' nan rumit, yang sudah kami jalin sekian waktu dengan Kanjeng Joyodipura. Dan benar saja ... 

Waktu sudah menunjukkan pukul 16 lebih, saat aku sampai di halaman Kagungan Dalem Bangsal Kemandungan, karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. 

Para Kanjeng dan abdi-dalem sudah ramai bermain panahan, dan ku lihat ... mbak Fatma juga sedang berjalan membawa jemparing (anak-panah) berbulu ungu yang sangat ku kenal. Anak-panah pusaka milik Kanjeng Joyodipura.


Setelah mengucap salam, dan memohon maaf atas keterlambatanku, aku dipersilahkan duduk dan mendampingi mengajar mbak Fatma memanah. Busur dan jemparing itu di-suwun-nya (diminta) kembali, dan aku di-dhawuhi (diperintahkan) untuk menggantikan mengajar.

Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat disusun dengan sistem paugeran yang rumit. Salah-satunya : abdi-dalem tidak diperkenankan mengajar masyarakat umum. Ditambah lagi, hari Selasa sore adalah jadual memanah khusus para abdi-dalem karaton. 

Namun sekali-lagi teknologi 'jaman-old' di Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang mengedepankan rasa, LEBIH UNGGUL (minimal dari sudut-pandangku) dibanding teknologi 'mesin' yang dibuat untuk memenjarakan manusia. 


V. PENUTUP

Hari ini, mbak Fatma sudah di Jakarta dan aku masih bergelut didepan komputer menulis tugas latihan mengarangku ini.

Menurut KBBI, Teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.

Hari ini aku belajar : Kemajuan Teknologi di Indonesia bagian Ngayogyakarta Hadiningrat, mungkin 'sedikit' berbeda dengan rumitnya teknologi mesin modern yang tidak mengenal kompromi. 

Mungkin aku akan menyebutnya: Kemajuan teknologi yang 'manusiawi'

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jemparingan Mataraman: Panahan Keraton yang Tetap Lestari

Busur-panah jemparingan kuno - www.JEMPARINGAN.com