Keraton Yogyakarta

Jemparingan Keraton Yogyakarta

  jemparingan keraton jogja gandhewa mataram

Generasi penerus Jemparingan keraton Yogyakarta, asuhan Gandhewa Mataram

Jemparingan keratonpanahan, atau memanah sudah dikenal sejak zaman Sultan Agung. Bahkan di era selanjutnya, jemparingan keraton sudah diajarkan sejak AWAL berdirinya kasultanan Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat.

“Jemparingan-mataraman gagrag Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat BELUM BANYAK DIKETAHUI masyarakat UMUM (bahkan juga para Abdi-Dalem Kraton Jogja), karena sifatnya : Kagungan Dalem

Jemparingan-mataraman ‘yang dikenal’ turun-temurun DI LUAR TEMBOK KRATON, selama ini di masyarakat UMUM, adalah gagrag (model/gaya) Mataram Surakarta, maupun daerah-daerah yg menganut budaya mataramAN lainnya.

Jemparingan ini dimainkan HANYA di dalam lingkup istana / oleh Para Abdi-dalem kraton Yogyakarta, Kasunanan, maupun Kadipaten (Mangkunegaran, Pakualaman) saja.

Saya pernah diceritakan oleh guru saya yg menjadi warga di Gunung-Ketur, Pakualaman Yogyakarta. Beliau sering ikut memanah di Kestalan, dan pernah meminta untuk diajarkan jemparingan gagrak / gaya keraton ini, namun DILARANG oleh alm. pak Sukro 😀

Ada hal menarik, jemparingan mataraman yg dilakukan dalam posisi duduk bersila – busur gendhewa dipegang dalam posisi tidur/ horisontal ini, di beberapa daerah ada yg menyebutnya : jegulan (Jatinom Klaten), undlup (Wonogiri), rancatan (Cirebon), pajher (Madura), dll

Di karaton Yogyakarta, jemparingan mataram sudah diajarkan di sekolah TAMANAN, untuk putra-putri Sultan dan kalangan keluarga pejabat tinggi karaton, tahun 1757.

Ayah Kris nggladhi jemparingan mataraman gagrag Kraton Jogja, di Kemandungan

Beberapa tahun kemudian dibuat sekolah Srimanganti di karaton Yogyakarta, untuk keluarga pegawai menengah dan bawah.

Di luar karaton, masyarakat yg melihat para sentana & prajurit berlatih panahan, akhirnya meniru tentunya dg istilah dan kreatifitas masing-masing. Sasarannya pun tidak selalu bandul (wong-wong.an) tapi ada yg bola digantung, jeruk bali, boneka seperti memedi-sawah, dan lain sebagainya

# Bandul jemparingan mataram

Di karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, sasaran panahan disebut wongwong.an : ada mustaka (kepala) di cat warna merah, jangga (leher) berwarna kuning, badan warna putih, DAN di bawah bandul wong-wongan dipasang bola yg disebut pocong (bahasa krama-hinggil untuk pantat)

# Waktu gladhen Jemparingan Mataram

Penghajeng GANDHEWA MATARAM : KRTHJATININGRATSH

Para abdi dalem karaton Ngayogyakarta hadiningrat rutin berlatih jemparingan mataram di plataran Kagungan Dalem Bangsal Kemandungan tiap hari Selasa sore.

Selain hari Selasa, gladhen (latihan bersama) khusus para abdi dalem juga dilaksanakan tiap hari KAMIS Pon, untuk memperingati berdirinya karaton Ngayogyakarta Hadiningrat

Juga RUTIN setiap hari Sabtu Pahing, diadakan gladhen jemparingan mataram ISTIMEWA 25 rambahan, memperingati hari lahir (wiyosan dalem) Sri Sultan Hamengku Buwana ke IX

# Pakaian Jemparingan Mataram

Untuk gladhen di plataran Kemandungan, atasan : kaos olahraga, bawahan : celana training olahraga.

Ech, iya… belajar jemparingannya sambil NGOPI, yuk ! TENANGG.. kopi yg di bawah ini AMAN untuk penderita Maag /Asam-Lambung AKUT, Hipertensi, Vertigo, Diabetes, dll 😀

kopi instan jemparingan keraton mataraman min kaffe
KOPI JEMPARINGAN MATARAM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jemparingan Mataraman: Panahan Keraton yang Tetap Lestari

Busur-panah jemparingan kuno - www.JEMPARINGAN.com