Falsafah jemparingan keraton Yogyakarta

Falsafah jemparingan keraton Yogyakarta


Bagaimana SEBENARNYA falsafah & sejarah jemparingan di keraton Yogyakarta?

sejarah jemparingan keraton yogyakarta

Hai, Kanca panahan, kali ini kita akan membahas falsafah jemparingan dan sejarah panahan di keraton Yogyakarta. Sudah ada banyak ‘sumber’ di luar-kraton Yogyakarta. Oleh sebab itu, kali ini kami akan menyajikan dari nara-sumber di DALAM karaton Ngayogyakarta-Hadiningrat.
.

>> Para KANCA (falsafah jemparingan keraton Yogyakarta)

Nge-rasa ngga’ sich, alih-alih menyebut: teman-teman, kali ini kami menyebut para pembaca dg istilah keraton kanca (artinya: teman).

Saat gladhen / latihan jemparingan di Kagungan Dalem Bangsal Kemandungan, Keraton Ngayogyakarta-Hadiningrat, saya pernah menyebut : para sedherek... Dan, (karena masih belajar) kami dikoreksi dg lembut oleh para-Kanjeng : “.. sebaiknya sebut saja: kanca.”

COBA SIMAK video di atas. Bahasa yg dipakai o/ KRT Joyodipuro adalah bahasa BAGONGAN.

Nah, ‘RASA’ sendiri di keraton memegang peranan yang penting. SEMUA hal dalam panahan jemparingan keraton Yogyakarta ada falsafahnya: kenapa harus memanah dengan duduk-bersila, kenapa memanah tanpa diincar dg mata, kenapa tidak sembarangan memakai pakaian tradisional di dalam keraton, kenapa harus menyebut ‘kanca’, dlsb.

>> SEJARAH JEMPARINGAN di keraton Mataram Ngayogyakarta

Sejarah jemparingan / panahan di keraton Yogyakarta dimulai dari Sri Sultan Hamengku Buwana ke-1. Beliau adalah pendiri sekaligus sultan-pertama di keraton Mataram Ngayogyakarta.

BACA JUGA : Jemparingan Mataram atau Mataraman, ya?

Kanca panahan, menurut KRT. H. Jatiningrat, SH. : setelah  9 atau 10 tahun berperang dg kompeni VOC, akhirnya pada tahun 1755 Pangeran Mangkubumi sepakat mengadakan Perjanjian Giyanti, yg membagi kerajaan Mataram menjadi 2 : Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta-Hadiningrat.

Koq dengan VOC? 

Yup, benar-sekali kanca jemparingan Yogyakarta.
Dikesempatan lain Kanjeng Joyodipuro menambahkan: Pangeran Mangkubumi tidak-rela kerajaan Mataram (Islam) koq diserahkan ke perusahaan / kompeni untuk membayar biaya perang.
Bahkan, Paku Buwana II minta palimirma (belas-kasihan) supaya putranya tetap diangkat menjadi raja PB.III di Mataram kala itu.

Singkat cerita Pangeran Mangkubumi menjadi Sultan pertama di Mataram Yogyakarta (Kerajaan Mataram dibagi 2), dan mulai membangun keraton Yogyakarta sebagai negara merdeka, lengkap dg bahasa, budaya, arsitektur, seni tari, wayang, dlsb

>> Lalu apa hubungannya dengan panahan?

Satu tahun setelah Sri Sultan HB.I selesai membangun istana, Beliau mendirikan Sekolah TAMANAN, untuk belajar para putra-putri Sultan dan pembesar tinggi keraton. Salah-satu mata-pelajarannya adalah : memanah.

Kanca panahan, jemparingan keraton / panahan diajarkan di Sekolah TAMANAN dalam ujud dolanan / permainan, sebagai sarana pembentukan-karakter ksatriya Mataram : nyawiji, greget, sengguh, dan ora mingkuh. Sasarannya juga berwujud boneka (jawa: wong-wongan), dg warna-warni untuk biji / poin nilai.

Jemparingan Mataram dilakukan dalam posisi duduk-bersila dg kaki kanan di sebelah depan. Busur gendhewa dipegang dengan tangan kiri dalam posisi melintang / horisontal, sedang jemparing (anak-panah) ditarik ke arah depan dada. Membidik wong-wongan bukan diincar denqan dilihat mata, tapi mengincar sasaran menggunakan mata-hati (manah). 

Jemparingan sebagai salah-satu mata pelajaran di dalam kraton BUKAN untuk menyamarkan olah bela-diri dari penjajah.

Kasultanan Mataram Ngayogyakarta-Hadiningrat adalah negara merdeka.

PAMENTHANGING GANDHEWA – PAMANTHENGING CIPTA

Merentang busur – mengincar sasaran bukan dg paningal (mata) melainkan dg cipta (hati / manah) adalah falsafah jemparingan Mataraman gagrag Keraton Yogyakarta.

Menarik busur dan mengincar dg hati ini seperti orang sedang takbiratul ihram. Saat takbir sholat, orang mengangkat tangan sambil mengarahkan hatinya tertuju kepada TUHAN yg tidak kelihatan mata.

Teknik memanah seperti ini sudah diajarkan sejak zaman Sultan Agung, salah-satunya melalui tari-tarian keraton yang menggunakan senjata-panah, ciptaan Beliau.

Ech, iya… belajar jemparingan-nya sambil NGOPI, yuk !
TENANGG.. kopi yg di bawah ini AMAN untuk penderita Maag /Asam-Lambung AKUT, Hipertensi, Vertigo, Diabetes, dll  😀

kopi instan jemparingan mataraman min kaffe
Kopi JEMPARINGAN

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jemparingan Mataraman: Panahan Keraton yang Tetap Lestari

Busur-panah jemparingan kuno - www.JEMPARINGAN.com