1. Berdirinya Kerajaan Mataram

 

Sumber : https://birotapem.jogjaprov.go.id/berita/22.pdf

Sejarah Kerajaan Mataram (islam. red) bermula dari sebidang tanah bernama Alas Mentaok yang merupakan sisa-sisa reruntuhan Kerajaan Medang Kamulan.

Tanah itu dihadiahkan Sultan Hadiwijaya dari Pajang kepada Ki Gede
Pamanahan
 dan anaknya, Danang Sutawijaya.

Jaga Pati, seorang pejabat istana, dalam suratnya kepada Gubernur Jenderal Speelman tanggal 16 Maret 1677 menceritakan bahwa Ki Gede Pamanahan adalah :

“seorang pejabat tinggi dan pembantu pribadi…. Sultan Pajang… karena kebaikan gustinya ia mendapat kedudukan yang sangat tinggi;
Raja ini setelah mengadakan perang terhadap kota Soude dekat Demak menghadiahkan kepadanya kota Mataram yang ketika itu masih kecil”.

(DE GRAAF, 1985: 41)

Mengutip dari H.J. de Graaf dalam Awal Kebangkitan MataramMasa
Pemerintahan Senapati
 : Soude adalah nama sebuah desa di tepi Bengawan Solo kira-kira 30 kilometer di sebelah barat Bojonegoro atau Jipang.

Tempat itu menjadi pertempuran sengit antara Ki Gede Pemanahan-Sutawijaya dan Ki Gede Panjawi melawan Pangeran Aria Penangsang, Bupati Jipang yang
memberontak. Adapun kemenangan menumpaskan pemberontakan Pangeran Aria Panangsang tersebut dilukiskan dalam Babad Tanah Jawi :

Keesokan harinya, di depan umum, kepada Raja Pajang
dilaporkan kemenangan atas Penangsang, dan siapa saja yang
berhasil membunuhnya….

Kemudian ia meminta kepada Kiai Gede Pamanahan agar memilih tanah Pati atau tanah Mataram….

“Baiklah saya memilih yang hutan saja,” katanya.
“Biarlah Kakak Penjawi memperoleh Pati yang sudah menjadi
kota dengan banyak penduduk, dan saya memilih Mataram
yang masih hutan belantara.

(DE GRAAF, 1985: 41)

Kendati diumumkan di depan umum, keberangkatan Ki Gede Pemanahan
dan anaknya ke Mataram tidak serta-merta segera dilakukan.
Sultan Hadiwijaya yang percaya dengan ramalan Sunan Giri bahwa tanah Mataram akan melahirkan raja-raja besar sehingga ia senantiasa mengulur-ngulur
waktu. Izin itu baru diperoleh setelah Sunan Kalijaga campur-tangan.

Babad Tanah Jawi melukiskan keberangkatan itu secara sederhana :

“permai, tanpa kebesaran.”

Diikuti istri, anak-anak, dan kerabat-kerabat yang mencintainya,
total ada 150 orang, dengan Ki Gede Pamanahan berjalan paling depan.
Berbagai macam barang dan bekal mereka bawa termasuk keperluan rumah
tangga. Tidak mengherankan jika perjalanan mereka lamban. (de Graaf,
1985: 48).

Semenjak kedatangannya di Alas Mentaok pada tahun ± 1570, Ki Gede
Pemanahan
 mengembangkan wilayah itu menjadi sebuah kadipaten dan
menamakannya sebagai Kadipaten Mataram.

Kadipaten ini menjadi salah-satu vasal Kerajaan Pajang sehingga setiap tahun ia dan anaknya yang telah diangkat anak oleh Sultan Hadiwijaya diwajibkan datang melapor ke Pajang dengan membawa beraneka persembahan.

Di bawah kepemimpinan Ki Gede Pemanahan, Kadipaten Mataram berkembang dengan pesat.

“Jalan-jalan penuh dengan pohon-pohon dan buah-buahan… Alam membantu dengan panen yang berlimpah-limpah. Bahkan air sumur tampak jernih. Perdagangan berkembang pesat. Banyak orang menetap di sana… Kehidupan makmur, murah sandang pangan”.

(MEINSMA,1874: 66-67, 72 DALAM H.J. DE GRAAF, 1985: 51-52)

Kotagede dipilih sebagai nama ibu kota, dengan harapan kadipaten itu akan berkembang menjadi sebuah kota besar.

R.G. Gill dalam De Indische Stad op Java en Madoera: Een Morfologische Studie van Haar Ontwikkeling menyebutkan bahwa :

Kotagede yang dibangun oleh Ki Gede Pamanahan tidak lagi semata-mata dipengaruhi oleh budaya Hindu dari periode sebelumnya. Struktur kota tidak lagi diatur dengan skema yang ketat dan formal sebagaimana Majapahit. Pusat kota dibentuk oleh pasar, dimana jalan-jalan masuk dari empat penjuru mata angin bertemu. Dari jalan-jalan ini sebuah jaringan jalan-jalan besar maupun setapak terhubung hingga masuk ke wilayah pemukiman.

(GILL, 1994: 48)

Kemakmuran Kadipaten Mataram mendorong Ki Gede Pamanahan mengganti namanya menjadi Ki Gede Mataram. Bersama kaumnya ia menikmati kehidupan tanpa kesulitan. Di sela-sela waktunya ia giat bertapa karena mengetahui apa yang pernah diramalkan oleh Sunan Giri, yakni bahwa kelak di Mataram akan muncul raja-raja besar yang berkuasa atas seluruh tanah Jawa. Ia mengharap bahwa keturunannya yang akan menjadi raja-raja itu. (de Graaf, 1985: 52)

Lima tahun memimpin Kadipaten Mataram, Ki Gede Mataram jatuh sakit.
Sebelum meninggal ia menyerahkan pemeliharaan atas keturunannya kepada Ki Juru Martani, yang harus dipatuhi oleh anak-anaknya.

Di samping itu ia juga menunjuk Sutawijaya yang juga berjuluk Ngabehi Loring Pasar sebagai penggantinya. Jenazahnya dikuburkan di sebelah barat masjid.

Sehari setelah kematian Ki Gede Mataram, Ki Juru Martani bersama seluruh
keluarga Ki Gede Mataram pergi ke Pajang menghadap Sultan. Dalam
kesempatan itu Sutawijaya dikukuhkan sebagai penguasa-baru Kadipaten
Mataram
 dan dianugerahi gelar Senapati Ingalaga Pranatagama. Di samping
itu Sultan juga memberinya kebebasan untuk tidak melapor ke istana selama
satu tahun agar digunakan untuk menertibkan daerahnya dan mencicipi
kenikmatan.

Mengutip Serat Kandha, H.J. de Graaf menulis sebagai berikut :

Setelah itu Kiai Juru dan kemenakannya mencium kaki Sultan
dan meminta izin untuk pulang. Semenjak itu, jumlah penduduk
Mataram bertambah banyak dan Senapati menikmati hidup
tanpa kesulitan.

(DE GRAAF, 1985: 69)

Keleluasaan untuk tidak melapor ke Istana sebagai bentuk kesetiaan
dimanfaatkan Senapati. Mengutip Babad Tanah Jawi, ia memerintahkan
rakyatnya untuk membuat batu-bata guna mendirikan benteng serta acap
kali mengadakan jamuan untuk menggalang dukungan politik.

Setahun berikutnya Senapati juga menolak menghadap ke Pajang. Tingkah laku
Senapati itu membuat Sultan Pajang mengutus Ngabehi Wuragil dan
Ngabehi Wilatama untuk menyampaikan tiga pesan kepada pemimpin baru
Kadipaten itu :

  • Pertama, Senapati tidak-boleh sering mengadakan jamuan.
  • Kedua, Senapati harus mencukur rambutnya.
  • Ketiga, Senapati diminta segera melaporkan diri ke Pajang.

Alih-alih mengindahkan pesan-pesan tersebut, Senapati justru semakin giat menggalang pengikut. Ia ingin mewujudkan ambisinya sebagai penguasa Jawa.

Usaha penggalangan pengikut itu digambarkan secara jelas dalam Serat
Kandha
. Sambutan, jamuan, dan pemberian hiburan kepada mantri-mantri pemajegan dari Kedu dan Bagelen sedang dalam perjalanan ke Pajang untuk
menyerahkan uang pajak adalah langkah pertama yang dilakukannya.

Mereka dilayani dengan wanita-wanita cantik yang menari,
memborehnya dengan param, bahkan juga menyuntingkan
bunga di telinga mereka.

Serta merta petugas-petugas yang
gagah berani ini menjanjikan bantuan dan kesetiaan kepada
Senapati….

Para mantri itu dihadiahi pakaian yang bagus-bagus.
Di bawah tepuk tangan mereka berjanji akan membayarkan
pajak kepada Senapati saja….

Mereka berpendapat, lebih baik mengakui Senapati saja sebagai raja. Mereka memperagakan tarian perang dan memamerkan kekuatan gaib serta
kekebalannya, dengan menahan ujung tombak dan lemparan
batu dengan badan.

(DE GRAAF, 1985: 72-73)

Usaha untuk mewujudkan ambisi sebagai penguasa juga dilakukan Senapati
dengan mencari legimitasi dari penguasa Pantai Selatan yaitu Nyai Roro
Kidul
.

Babad Tanah Jawi dan Serat Kandha mengisahkan bahwa selain
berkasih-kasihan selama tiga hari tiga malam, Senapati mendapat pelajaran
tentang ilmu pemerintahan serta cara memanggil makhluk-makhluk halus.

Selanjutnya Senapati juga mengharuskan rakyat Mataram untuk terus
membuat batu bata dan membakarnya di musim kemarau. Batu bata itu
dipergunakan untuk membuat bangunan-bangunan baru dan juga tembok
yang dibangun mengelilingi Mataram.

Khusus untuk tembok-tembok di sekeliling kediaman Senapati, batu bata dibuat dalam dua warna yang berbeda, merah dan putih, yang dari pembuatan hingga pembangunannya diawasi oleh Senapati sendiri.

Pembuatan batu bata itu merupakan sebuah hal istimewa. Rijklof van Goens
mencatat bahwa tembok-tembok itu masih bertahan dan kelihatan sangat
tua ketika ia mengunjungi Mataram di penghujung abad ke-17.

Sementara itu H.J. de Graaf berpendapat bahwa keberadaan batu bata tersebut menjadi bukti kekuasaan Senapati yang membesar. Pasalnya, “pembangunan tembok di bagian selatan Pulau Jawa pada zaman itu merupakan sesuatu yang agak baru. Tidak mengherankan jika tokoh keramat dari utara, Sunan Kalijaga,
dengan air yang berisikan mantra harus memberikan patokan untuk
pembangunan tembok.” (de Graaf, 1985: 76-77)

Gencarnya pembuatan batu bata dan pembangunan tembok di Mataram
membuat Sultan Pajang semakin marah. Permusuhan dengan Mataram
menjadi semakin tidak terhindarkan.

Setelah pertempuran di Prambanan dan pengejaran orang-orang Mataram, Sultan Pajang pun meninggal. Keadaan ini dipergunakan Senapati untuk mengangkat dirinya sebagai raja Mataram dan bergelar Panembahan yang berarti orang yang harus disembah.

Langkah pertama yang dilakukan Panembahan Senapati sebagai raja baru
Mataram
 adalah membangun ibu kota dan istana kediaman.

Laporan tentang Keraton Panembahan Senapati itu diketahui pertama kali dari laporan seorang Belanda, Dr. de Haan, pada tanggal 30 Juni 1623.

Bersama rombongannya mula-mula ia mengikuti sebuah jalan kecil, setelah
memasuki jalan lebar yang bersih yang diikutinya, ia sampai di Kota
Mataram. Setelah melintasi kota itu ia mendekati kota yang kedua, jarak
antara kedua kota itu setembakan peluru senapan. Terdapat sebuah sungai
yang mengalir di antara kedua kota tersebut. Nama kota-kota itu berbunyi
Cota Saba dan Cota Dalm atau Mataram tempat tinggal ayah raja dulu.

Masih menurut de Haan, kota-kota tersebut luas sekali dan penduduknya tidak
terhitung banyaknya. Jalan-jalan yang sangat indah dan lebar menghiasi ibu
kota, begitu juga berbagai pasar. Tinggi tembok kota tersebut antara 24-30
kaki, lebarnya 4 kaki, dan di luar mengalir sebuah sungai yang kemungkinan
adalah sebuah parit. (de Graaf, 1985: 117-118)

Senapati juga berusaha untuk mengukuhkan diri sebagai penguasa atas
pusat-pusat kekuasaan yang ada di sekitarnya. Meskipun demikian terjadi
penolakkan oleh kadipaten-kadipaten di bawah kekuasaan Pajang yang
menolak kekuasaan Mataram karena merasa sederajat.

Tidak hanya penolakkan dari kadipaten-kadipaten disekitarnya, Senapati pun harus berhadapan dengan desa-desa yang menolak mengakui Senapati sebagai
raja mereka. Salah satunya adalah Ki Ageng Mangir Wanabaya yang
melakukan perlawanan karena merasa bahwa Senapati mendapatkan
kedudukan sebagai penguasa dengan jalan berperang.

Posisi sebagai raja juga mendorong Senapati untuk memperluas wilayah
kekuasaannya dengan cara ekspedisi-ekspedisi dan penyerbuan ke wilayah
lain. Beberapa penyerbuan yang dilakukannya antara lain ke Mojokerto,
MadiunPasuruanBagelenCirebonJeparaDemakKediri, dan Tuban.

Pertempuran sengit terjadi di dua tempat terakhir. Kekalahan demi
kekalahan pun dihadapi Senapati dan pengikutnya membuatnya jatuh sakit. Ketika sampai di Uter, Wonogiri, pada hari Jumat Kliwon Asyura tahun
Wawu 1563 ia menghembuskan napas terakhir. Jenazahnya pun kemudian
disemayamkan di sebelah barat masjid bersebelahan dengan makam
ayahnya. (Martohastono, tanpa tahun : 6)

Setelah meninggalnya Panembahan Senapati posisinya digantikan oleh Mas
Jolang
 yang bergelar Susuhunan Prabu Hanyakrawati. Selanjutnya berturut-turut digantikan oleh Adipati MartapuraSultan AgungMangku Rat IMangku Rat IIMangku Rat IIIPaku Buwono IMangku Rat IV, dan Paku
Buwono II
.

Untuk lebih jelasnya dapat disimak dalam bagan berikut ini.

... baca selanjutnya : B. Konsep Kekuasaan Mataram

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jemparingan Mataraman: Panahan Keraton yang Tetap Lestari

Busur-panah jemparingan kuno - www.JEMPARINGAN.com